Senin, 23 Januari 2012

no heart 7

Bimo mengantar Sinta pulang. Sepanjang perjalanan, tak sedikitpun Bimo menyinggung masalah ibunya. Ia seperti sengaja melewatkan pembicaraan itu.
Sinta mencuri pandang wajah Bimo. Ia memperhatikan gerak-gerik lelaki muda itu tanpa henti.
"Aku merasa asing di dekatnya," batin Sinta berbisik.
Roda hitam itu menggelinding menuju pelataran rumah Sinta.
"Masuk yuk." Tawaran secangkir kopi susu, ditujukan kepada Bimo. 
"Makasih ya..kapan-kapan aja deh," tolak Bimo halus. "Aku hubungi kamu besok-besok..tentang yang kita bicarakan tadi!"
Lambaian tangan Bimo mengakhiri percakapan mereka. Sinta mengeluh panjang. Kali ini, bolehlah dia bermain rahasia hingga aku tak tahu, permainan seperti apa yang sedang dimainkannya.
***
"Bim..telepon di line 1," teriak Isti dari luar pintu.
"Ya. Halo selamat pagi. O..hai, apa kabar? lama ga bersua, sekarang dimana?"
Bimo menutup saluran telepon dengan wajah berseri. Percakapannnya tadi benar-benar merubah suasana hatinya. Bayangan masa lalu menyeruak di memorinya. Ia pun tersenyum sendiri. Tanpa sadar, Isti seketarisnya telah berdiri di depannya.
"Lho kamu ga ketuk pintu dulu ya?"
"Sudah Pak. Bahkan Bapak sudah menganggukkan kepala."
Bimo tersipu malu. Wajahnya memerah membayangkan seorang wanita karyawannya telah mencuri kesempatan memperhatikan si bosnya. MELAMUN..apa kata dunia? Jangan-jangan mereka akan menggunjingkanku nanti.
"Saya mau menyerahkan ini." Isti meletakkan sebuah amplop dan beberapa kertas yang tersusun rapi dalam sebuah map.
Bimo mempersilahkan Isti  keluar. Diambilnya amplop tersebut dan dibacanya kertas-kertas dalam map.
"Hai, sudah baca kirimannya?" sebuah suara berat di ujung telepon terdengar jelas di telinga Bimo.
"Ya Pak. Baru saja saya pelajari." "Baik..kamu berangkat besok. Kita jumpa beberapa klien disana."
Bimo menganggukkan kepala sendiri. "Sin..besok ketemu aku di bandara ya. Pukul 7.00 pagi."
Bimo mempercepat  pekerjaannya. Ia membuat beberapa memo untuk Isti selama beberpa hari ke depan. Langkahnya secepat kilat. Ia bergegas berbelanja beberapa kebutuhan untuk di rumah dan memasukkannya ke dalam lemari es. Peralatan dapur ia siapkan: kompor, tabung gas, dan ..
"Ah. Aku benar-benar butuh pembantu" gerutu Bimo seketika. "Jangan sampai Ibu mengira aku tak pernah memasak." 
Lelah menguasai pikiran dan fisik Bimo namun tetap saja ia membereskan kamar tamu, kamar mandi dan ruang lainnya demi kenyamanan ibunya.
***
Pukul 7.00, Sinta menanti Bimo dengan sabar dan berdebar. Ia pasti bilang..jelas akan bilang sesuatu padaku..
"Hai..maaf lama menunggu. Biasa..kendaraanku sedang bermasalah sedikit." Bimo meringis beralasan.
"Jadi gimana?" Sinta mengernyitkan dahinya. Rasa ingin tahunya semakin besar. 
"Gimana apa? O..ya..maaf aku lupa. Besok ibuku datang. Aku belum tahu jamnya. Tapi aku akan menghubungimu nanti setibanya aku di Jambi."  
  Lelaki itu sibuk dengan handphone-nya yang berdering.Sinta mengatur jarak.
"Oya, sampai dimana kita tadi??"Bimo menyimpan hpnya dan menjejeri langkah Sinta. 
"Sintaa.." kali ini lelaki itu berteriak. Sinta menoleh dengan berat. Entahlah..ia mulai malas melihat polah Bimo yang sok sibuk.
"Bantu aku ya..please. Aku sudah siapkan semuanya. Bimo memberikan kunci mobilnya pada Sinta.
"Baru saja Ibu telepon, dia berangkat pagi ini. Jadi tiba di stasiun sekitar pukul 2 atau 3 siang."
Sinta menganggukkan kepala. Rupanya sedari tadi Bimo sibuk dihubungi Ibunya. Lalu? Apa penjelasanku pada Ibunya..who am I?? Jackie Chan?? wajahnya mendadak cemberut. Ia mencolek pundak Bimo yang akan masuk ke toilet.
Kalau Ibumu tanya-tanya..putra kesayangannya..aku harus jawab apa??" selidik Sinta.
"Ehm..keluar kota..bentar." Bimo ngeloyor pergi.
"Hei..belum selesai." Bibir Sinta makin ditekuk. Ia melipat tangannya dan menunggu dengan jengkel.
"Aku emang temanmu Bim..tapi aku koq ga tahu kamu kemana dan ngapain..bisa-bisa Ibumu melototi aku dan menginterogasi habis-habisan..gila ya kamu..aku disuruh mikir sendiri," cerocos Sinta sebal.
Bimo menatap wajah Sinta tak percaya. Bisa juga Ia marah.
"Sin.. aku harus ke Jambi karena ada rapat dengan klien bosku. jadwalnya tabrakan sama agenda kunjungan Ibu. Inginnya aku bisa menghormati beliau, mengajaknya jalan-jalan dan..bikin beliau seneng deh. Tapi semuanya berantakan," suara Bimo melunak.
"Dan kau memilih pergi?? Huh..terus aku jaga rumahmu? Menemaninya dan mengajaknya ngobrol tentang segala kebaikanmu??"
Bimo menghela nafas. "Please Sin..lain kali aku bisa menanggulagi masalahku sendiri" 
Bimo meraih jari Sinta. "Baiklah..sekarang pergilah." Sinta menepis tangan Bimo dan berlalu.
 
bersambung di Mbak Pu. No Heart 6 - No Heart 5