Tampilkan postingan dengan label bank sampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bank sampah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Menabung Sampah Berbunga Surga III

Kecilnya nilai materi yang diperoleh memang tak sebanding dengan pengorbanan para ibu pejuang kebersihan. Bunda Toto dan ibu-ibu bank sampah itu tak memikirkan jumlah rupiah yang dihasilkan dari sampah per minggunya sebab nilainya baru dibagikan setahun kemudian. Mereka sedang merintis tabungan di surga.


“Apa yang kita lakukan harus barokah. Ngga hanya pada diri sendiri tapi juga bagi orang lain. Bank sampah ini telah banyak membantu warga, untuk membeli kebutuhan keluarga, pakaian, bayar sekolah, bayar hutang dan bingkisan lebaran. Warga sangat bersyukur dengan adanya bank sampah. Saya juga senang karena warga dapat merasakan manfaatnya setelah dua tahun ini. Dulu bank sampah ini pernah dirugikan, ditipu, ngga punya nasabah dan dimusuhi. Tapi kini sangat dicintai,” jelas Bunda Toto menutup perbincanganku sore itu.
Pamit dari rumah sederhana itu, hatiku selalu tertambat. Bunda Toto mungkin tak seberuntung kita. Hidupnya sederhana dengan penghasilan yang masih disyukurinya. Namun semangat berbaginya luar biasa. Lalu bagaimana dengan sahabat Ummi?
Adakah niatan untuk menjadi pejuang lingkungan di dekat rumahmu? Sekolahmu? Kantormu? Setelah nikmat sejahtera, nyaman dan sehat yang kita miliki, adakah keinginan untuk menyejahterakan lingkungan? Bumi tempat kita mencari kehidupan? Mari kita mengingat, rusaknya lingkungan akibat polah manusia. Maka manusialah yang harus memperbaikinya agar ia terus mengingat bahwa manusia hanyalah penghuni sementara. Bukan pemilik dunia dan seisinya.
Tulisan ini juga dipublikasikan di ummi-online

Menabung Sampah Berbunga Surga II

“Dalam Al-Qur’an QS.30 (Ar-Rum):41 telah jelas dikatakan bahwa terjadinya kerusakan yang tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia. Kerusakan yang akan manusia rasakan akan membawa manusia kembali ke jalan yang benar. Inilah yang membuatku resah. Lalu kapan benarnya, Mbak? Nunggu ada musibah? Nunggu cucuku lahir?” papar Bunda Toto dengan suara yang rendah.
“Coba deh panjenengan bayangkan, kalau saya kebanjiran karena sampah meluap bisa jadi saya ga kena. Tapi tetangga saya kerepotan, anak-anak saya dan lainnya kena penyakit dari sampah. Belum lagi banyak nyamuk dan ngga nyaman,” Bunda Toto menjelaskan fakta yang ada di lingkungannya dengan logat Jawa yang setengah-setengah.
Bunda Toto kadang berapi-api jika berbicara tentang bank sampah. Kegiatan sosial yang dirintisnya bersama ibu-ibu pengajian dua tahun lalu itu mulai diminati banyak warga. Pada awal berdiri, jumlah penyetornya hanya 25, sekarang bertambah 45 nasabah. Bahkan sampah dari satasiun Purwokerto juga dilimpahkan ke mereka. Sampah botol, gelas plastik, dus makanan, tertata rapi di pekarangan rumahnya.
Setiap hari Minggu, sejumlah pengurus bank sampah giat memilah sampah setoran nasabah. Mereka sadar, jika bukan mereka, tak ada yang melakukan pemilahan. Kegiatan sukarela ini membuat penulis tersentuh, betapa hebatnya iman mereka. Bayangkan deh, honor memilah sampah bukan puluhan atau ratusan ribu. Tapi ibu-ibu itu rela mengotori tangan dan bajunya tanpa jijik. Kresek dilipat, karton dirapikan, kertas, sedotan, pecahan kaca, sandal plastik, besi bekas dan banyak sampah lainnya, dipilah dengan telaten. Dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung lalu dijual di hari berikutnya dengan konsep kejujuran dan keterbukaan.
Tulisan ini juga dapat dibaca di ummi-online.

Menabung Sampah Berbunga Surga I


Sungguh sebuah kebanggan ketika melihat jumlah muslim di Indonesia termasuk mayoritas di dunia. Bahkan pemakai hijabnya semakin banyak dari tahun ke tahun. Namun sebuah ironi tatkala kita mengetahui bahwa muslim yang sadar kebersihan hanyalah segelintir. Coba pembaca saksikan, sampah yang menumpuk di sungai semakin banyak. Padahal mereka membersihkan badan dan mencuci pakaian dengan air yang sama. Dimanakah letak kesadaran kita? Anehnya tak sedikit pengusaha muslim pengguna bahan plastik sebagai pembungkus makanan. Paham sendiri kan, plastik sangat susah diurai oleh tanah.
Berangkat dari kesadaran itu, seorang perempuan muda yang bermukim di pingir Kali Banjaran, Purwokerto, tergerak mengabdikan dirinya untuk mengajak ibu-ibu pengajian di dekat rumahnya sadar lingkungan. Tak mudah menjalaninya karena kebiasaan yang sudah mengakar di masyarakat, masih enggan untuk tidak membuang sampah di sungai. Namun ia gigih berusaha memperjuangkan kebersihan dan kelestarian lingkungan dari musholla.
Setiap pertemuan, Bunda Toto (sebutan warga), menyarankan pentingnya membuang sampah di tempatnya, bukan di kali!. Ia pun mengganggas pendirian bank sampah sebagai pesona agar warga tertarik berbuat kebaikan. Maka terbentuklah Bank Jali.
“Kata bank identik dengan uang. Warga mudah teriming-iming dengan uang. Namun sasaran utamanya adalah menumbuhkan kesadaran karena Allah semata,” kata Bunda Toto saat saya menemuinya di rumahnya, di Kober, yang asri dan sejuk.
Ibu empat anak ini berusaha menerapkan ilmu yang dimilikinya saat di bangku kuliah untuk mensejahterakan masyarakat di sekitar rumahnya. Ia sadar, jika bukan dari diri sendiri, siapa lagi yang akan memulai. Apalagi ia mengetahui ilmu agama...
Tulisan ini juga dipublikasikan di ummi-online.