Tampilkan postingan dengan label kontes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

daftar peserta Bingkisan dari Kami

Hampir seminggu berkutat dengan editan buku sukun,..jenuh dan lelah rasanya..dilanjutkan dengan kakak Farhan yang kena sariawan, dede razan yang radang tenggorokan plus batuk-batuk, ibu mertua yang kanbuh darah tingginya...jadilah saya menjarangkan blogwalking..
Mohon maaf kepada semua teman yang belum saya kunjungi blognya..insya Allah saya akan bertandang ke rumah kalian,..:)


Dan..Terima kasih kepada teman- teman yang telah berpartisipasi dalam acara "Bingkisan dari Kami"
berikut daftar peserta yag telah berpartisipasi (urutan paling bawah adalah yang paling pertama)...:


http://another-reni.blogspot.com/2011/10/allah-telah-mengatur-segalanya.html
http://arrrian.blogspot.com/2011/10/surga-ada-dibawah-telapak-kakimu-ibu.html
http://negeriseribukata.blogspot.com/2011/10/itu-bukan-hutang-anakku.
http://rindrianie.wordpress.com/2011/10/20/tentang-berteman/
http://anggania.blogspot.com/2011/10/sebuah-permintaan_20.html
http://mabrurisirampog.wordpress.com/2011/10/19/khitanan-dan-kemah/#more-2391
http://z47d.wordpress.com/2011/10/17/maaf-saya-jenuh/
http://goodcrab-personal.blogspot.com/2011/10/betapa-mulia-hatinya.html
http://gamazoe.wordpress.com/2011/10/16/suka-duka-uang-saku/#more-582
http://keluargadeyfikri.blogspot.com/2010/06/saatnya-ikhlas-seikhlas-ikhlasnya.html
http://loemoet-hijau.blogspot.com/2011/08/cerita-dari-penjaga-ujian.html
http://sayyidahqurani.wordpress.com/2011/10/13/cinta-orang-tua-kepada-anaknya-melebihi-segalanya/
http://www.masjier.com/2011/10/hargailah-perjuangan-orang-tua.html
http://alqoernia.blogspot.com/2011/10/hormati-selalu-ibumu.html
http://yundahamasah.blogspot.com/2011/10/adil-itu-indah.html
http://ilarizky.blogspot.com/2011/10/lelaki-isya.html
http://ocekojiro.wordpress.com/2011/10/08/terjun-tanpa-payung-2
http://sentilan.blogspot.com/2011/10/naik-gunung-pertama.html
http://try2bcoolnsmart.wordpress.com/2011/10/07/lagu-anakku-sazali/
http://meworldwords.blogspot.com/2011/10/sebuah-keluarga.html
http://tarryholic.blogspot.com/2011/09/disayang-dimanja-itu-beda.html
http://immanuels-notes.blogspot.com/2011/09/tragedi-salah-kirim.html
http://www.thegreenpensieve.com/2011/10/buruk-dan-baik.html
http://puteriamirillis.blogspot.com/2011/09/bukan-oh-mama-oh-papa.html
http://nurlailazahra.blogspot.com/2011/09/hidup-dan-kehidupan.html
http://www.bubblelatte.co.cc/2011/09/sesuatu-yang-terkadang-tidak-kita.html

Masih ada 14 hari lagi..untuk mengikuti acara ini,..menjawab pertanyaan Mbak Dey, isi cerita boleh dari postingan lawas/lama..yang penuh kesan/pelajaran bagi si pencerita.

Kamis, 29 September 2011

Belajar Berubah Untuk Hidup Sehat

Bakso..bakso..!
Hari ini saya masak bakso ..oh bukan, tepatnya membuat kuah bakso karena baksonya sudah ada (dikasih orang) dan tinggal membuat bumbu serta menambahkannya di kaldu. Permasalahannya, saya tidak pernah membuat kaldu bakso..jadi resepnya tidak tahu dan tidak pede dengan rasanya..
Ibu mertua saya mengajarkan bahwa bumbunya sama dengan bumbu sop lalu tambahkan bumbu masak. "Tambahkan bumbu masak saja seperti penjual bakso itu..ga apa-apa kan, mumpung punya," begitu kata beliau. Saya terdiam sambil berpikir. Hmm..apakah perlu?? Saya urungkan niat untuk memberi penyedap ke dalam kaldu..saya yakin,ini pun sudah enak tanpa penyedap :)

Postingan kali ini tidak ada kaitannya dengan resep masakan namun berkaitan dengan "PERUBAHAN". 

Sudah lama saya menghindari pemakaian bumbu masak dalam setiap sajian makanan rumah maupun di luar rumah. Sebisa mungkin ketika membeli soto, bakso, mi ayam, mi goreng, nasi goreng atau apapun yang harus dibubuhi bumbu masak,..saya berpesan kepada penjualnya agar "tolong Bang, punya saya jangan dikasih MSG/vetsin/bumbu masak..!"
Ini juga berlaku untuk suami dan anak-anak saya. Biarlah rasa asin dari garam saja yang kami nikmati. Meskipun sebenarnya saat ini, kuah bakso dan bumbu soto seringkali juga sudah ditambahkan penyedap, saya tetap berusaha agar tidak ditambahkan lagi. Kasihan tubuh saya..:(

Sejak saya hamil anak pertama..kehidupan saya berubah. Buku panduan tentang kesehatan ibu hamil saya ikuti dengan serius. Tidak makan ini dan itu..ok! harus makan ini dan itu..ok!
Semua demi sang janin yang saya inginkan dapat lahir dengan sehat. Saya berubah! Demi mereka, kedua buah hati saya, termasuk menahan diri tidak makan dengan bumbu masak..
Awalnya susah banget. Di rumah mertua, semua penyedap yang seringkali dijadikan imbuhan dari uang kembalian mertua, saya buang semuanya...! Terpaksa,..:) Demi kesehatan kami sekeluarga. Lambat laun akhirnya kami mampu beradaptasi dengan rasa yang alami.

Selain penyedap, saya juga harus berkompromi dengan menghindari minuman bersoda. Sejak hamil hingga anak-anak bisa bermain sendiri..jenis minuman ini, sangat diminimkan ketersediannya. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari deh. Saya belajar menolak rasa nikmat sensasi segar dari jenis minuman itu demi kesehatan dan juga contoh yang baik buat anak-anak. Saya melakukan perubahan besar-besaran dalam kehidupan sehat di dalam keluarga.

Bagian yang paling sulit adalah mengajak makan sayur dan buah pada diri anak-anak. Menyuruh mereka makan sayur bukan hal mudah. Karena itu saya harus mencontohnya, menyaksikan sediri betapa nikmatnya sayuran. Dulu, saya adalah pemilih yang nakal terhadap makanan. Tak semua sayur dan buah saya sukai, namun lagi-lagi karena hamil dan ingin bayi yang sehat..saya mengkonsumsinya. Ternyata perilaku sehat yang saya lakukan berimbas kepada janin saya..mereka juga menikmati sari makanan yang mengalir  ke dalam tubuhnya. Jadi saya telah mengenalkan sayur dan buah secara tidak langsung..hingga sekarang, tumbuh menjadi anak-anak. Kini giliran saya tetap konsisten dalam menjaga kesehatan keluarga agar perubahan yang saya lakukan tetap berkesinambungan.

Benar kata pepatah : buah tak jatuh dari pohon induknya.

Jika saya ingin anak-anak yang sehat dan terus melakukan gaya hidup sehat maka saya harus melakukan perubahan dengan berperilaku sehat terlebih dahulu..
Toh pada dasarnya bayi/anak-anak tetap suka rasa tidak enak jika sebenarnya menurut orangtuanya itu enak dan menyehatkan..
jika kita bilang kue bolu itu pedas maka dalam mindset mereka..bolu itu pedas..selamanya..hingga ia bisa mengetahui dan membedakan sendiri rasa enak di lidah dan perutnya..


Jumat, 23 September 2011

"Story Pudding : Percayalah Istriku"

Percaya aja..! begitu selalu mantra ajaib yang diucapkan suami setiap kali saya mulai berkeluh kesah. Hal yang paling sering saya keluhkan tentu saja sama dengan para ibu rumah tangga lainnya, masalah keuangan. Ya. Saya selalu kawatir dengan nasib keuangan kami tatkala belum akhir bulan sudah menipis dana utama. Padahal hal-hal penting sudah didahulukan tetapi tetap saja ada peristiwa tidak terduga. 
Jika sudah begini, saya tak punya pilihan lain selain berharap untuk percaya akan ucapan suami bahwa semuanya baik-baik saja. Sebab jika dihitung secara matematika, saya akan semakin pusing tak berdaya. Musykil..ga mungkin bisa bertahan. Namun suami tetap "Yakin saja, pasti ada pertolongan," begitu hiburnya.


Lalu kepercayaan saya meredup ketika hal buruk benar-benar terjadi. 
Suami dirumahkan dan kami hanya bergantung pada tabungan.


Suatu hari,..kami tak punya pilihan, uang sekolah anak belum terbayar. Dana menipis drastis. Hanya barang pemberian suami di hari istimewa pernikahan kami yang tersisa. Meski berat, saya merelakannya.
Barang berbentuk lingkaran seukuran jari manis saya itu pun berpindah tangan untuk diuangkan. Saya dan suami hanya menatap lesu..Namun ia masih saja bisa bercanda sambil menghibur dengan mengucap mantra.."insya Allah ada penggantinya."
  
Ah. Ini adalah tantangan untuk sebuah kebersamaan kami. Dalam kebingungan, saya berusaha berpikir jernih. Mengingat kembali perjalanan waktu ketika bertemu dan memulai sebuah keluarga mungil dengan keterbatasan dana. Saling membangun semangat satu sama lain agar rasa optimis menempuh hidup selalu hadir dalam sukma kami. Itu semua adalah modal perkawinan kami. Bukan hanya cinta atau materi semata tetapi rasa percaya di antara kami berdua.


Kini ketika modal terakhir kami juga nyaris pupus, haruskah kami menyerah?
Tidak..masih ada satu lagi, percaya kepada Yang Maha Kuasa.


Saya baru sadar bahwa modal sebuah hubungan dua insani ternyata adalah keimanan kepada sang Khalik. Dengan itu kami yang papa, tak punya daya dan kuasa masih memiliki kekayaan rohani untuk meminta. Berharap dengan yakin bahwa hidup tetap bisa dijalani dengan penuh sukacita dan ikhlas tanpa berpikir neko-neko. 
Alhamdulillah..
Karunia masalah berbuah kebaikan karena dengan masalah yang kami terima, kami justru mendapat hikmah, saling menguatkan dalam kebersamaan. Saling mendukung untuk kemajuan dan saling mengisi untuk mendapatkan celah demi kesejahteraan keluarga. 
Soal rejeki yang memusingkan, tak lagi menjadi bahan pembicaraan. Biarlah itu menjadi rahasia illahi. Karena kami hanya makhluk yang berusaha. Insya Allah akan datang pada waktunya sesuai dengan ikhtiar kami. 


Kisah ini diikutsertakan pada A Story Puding for Wedding yang diselenggarakan oleh Puteri Amirilis dan Nia Angga

Kamis, 04 Agustus 2011

Kado Ulang Tahun RI


Pagi menyapa hari. Langit biru melambai-lambai. Awan membentuk tangan tiga jari, aku menggapai-gapai. Ibu tergesa melewatiku. Hilir mudik Ia berjalan. Keluar masuk rumah lalu menghilang entah kemana. Kuikuti langkahnya. O..ke rumah Bu RT rupanya. Aku berjalan mengendap. Bersembunyi di balik pintu depan dan menyiapkan pendengaran juga penglihatan. Ada keramaian disini. Tidak hanya Ibu yang sibuk tetapi juga ibu-ibu lainnya. Tangan mereka asyik meracik, memotong, menggoreng, mengukus dan menghias sesuatu. Gunungan itu menjulang di tengah meja tamu. Ya. Ada warna yang tak asing di mataku. merah, putih, hijau juga kuning menyatu. Sesaat kemudian, Ibu juga lainnya mengakhiri pekerjaan. Mereka berpamitan. Aku berlari kencang. Kuhadang Ibu di  tepi jalanan.
"Ibu darimana sih?" tanyaku basa basi.
"Kamu..bikin kaget aja!" teriak Ibu. " Ibu dari rumah Bu RT."
"Ada acara apa disana, koq ada gunungan nasi kuning?"
" Lho koq kamu tahu? Hayo, pasti tadi main ke rumah Bu RT ya? Gunungan itu namanya nasi tumpeng. Buat nanti malam, acara tirakatan di halaman rumah Pak RT. Anak-anak juga boleh ikut De."
" Wah asyik. Tapi dalam rangka apa Bu?"
" Ulang tahun kemerdekaan negeri kita"
"O iya aku lupa tapi hari merdeka koq dibuat ulang tahun tho Bu??"
" Iya. Ini hanya merayakan De. Tanggal 17 dulu, ditetapkan sebagai hari proklamasi. Itu lho mengumumkan bahwa negara kita sudah lepas dari penjajahan."
"Jadi memperingatinya dengan cara begini ya Bu?"
"Ya nggak selalu. Buat warga kita, yang penting ya mendoakan saja agar negara kita selamat selalu dari segala mara bahaya jadi tetap merdeka terus."
"Terus perlu bawa kado ga Bu?"
"Kado? Buat apa? Buat siapa?"
"Buat yang ulang tahun. Buat negeri kita kan Bu..!"
Ibu terdiam. Mencari pilihan kata yang tepat untuk menjelaskan makna kemerdekaan buat Ade, bocah cilik yang baru dua tahun memasuki dunia sekolah dasar.
" Kamu mau memberi kado apa?" pancing Ibu.
" Ehm,..baiknya apa ya Bu? Yang selalu dikenang dan bermanfaat untuk negeri."
" Ikut Ibu, yuk!" Tangan Ibu menggamit Ade menuju rumah, diambilnya sebuah kertas dan dipotongnya menjadi tiga bagian. Masing-masing diberi tulisan dan dimasukkan ke dalam kotak kecil lalu ditutup rapi.
"Ini untuk kado ulang tahun negeri kita. Buat Ade," jelas Ibu.
Ade membuka kotak itu dan membaca isinya:


KECINTAAN
"Jika Ade sayang dan cinta dengan negeri ini maka jagalah selalu ia. Jagalah dengan kemampuanmu. Misalnya dengan selalu menjaga lingkungan, tanah, air, hutan, sungai, lautan, tambang dan semua yang dimiliki oleh negeri kita. Peliharalah dengan penuh kasih sayang karena di tempat inilah kamu lahir dan mencari makan untuk hidupmu juga hidup orang lain kelak. Jangan sampai Ade harus mengemis kepada negeri lain hanya karena Ade kelaparan. Kalau bisa, Ade menyiapkan bekal untuk orang lain jangan egois dan tamak. Hidup yang berkah kan jika kita saling berbagi."

"Lalu yang kedua?" tanya Ade.
KEJUJURAN
"Demi cinta, manusia kadang mau berbuat apa saja namun alangkah baiknya itu semua dilakukan dengan kejujuran. Ibu lebih senang jika Ade berhasil mengalahkan nafsu kebohongan. Negeri yang dipenuhi dengan usaha dari masyarakat yang jujur, akan barokah hidupnya. Tentram dan sentausa. Tak ada buruk sangka ataupun iri dengki. Oleh karena itu, jika melakukan sesuatu, ingatlah untuk jujur terhadap dirimu sendiri."

"Bagaimana dengan yang ketiga Bu?" pinta Ade.


TIDAK PELUPA
"Kita kan hidup dari masa lalu. Ada banyak orang yang telah berkorban demi sebuah kemajuan negeri ini. Mulai dari pejuang zaman kerajaan-zaman penjajahan Belanda-zaman revolusi-zaman pembangunan hingga zaman reformasi. Jumlahnya tak terhitung. Mereka semua berjuang menggunakan senjata dan tidak. Mereka semua melakukannya atas dasar peduli dan cinta kepada negeri ini De. Untuk sekarang, Ade bisa melihat para dokter yang berjuang demi keselamatan pasien atau petani yang setia berjuang demi perut sendiri dan juga perut tetangganya. Ada juga guru di desa terpencil yang rela tidak dapat uang gaji namun rela meluangkan waktunya untuk mengajar dan mendidik murid-muridnya. Ada juga petugas di PMI yang berjuang mencari pasokan darah demi orang lain. Semua itu punya tugas dan panggilan hidupnya masing-masing. Mereka adalah pejuang kita De. Ade pun pejuang cilik."
"Ade ikut berjuang apa Bu?"
"Ade berjuang membangun rasa peduli kepada negeri Ade melalui sekolah dan lingkungan rumah. Belajar dan mengumpulkan ilmu untuk masa depan negeri juga kehidupan di lingkungan sekitar. Jangan pernah lupakan semua usaha para pejuang kita ya De. Ingatlah selalu semangatnya!" pinta Ibu sambil memeluk Ade. "Ade adalah pejuang buat Ayah ibu dan negeri ini," sahut Ade.
"Terimakasih anakku. Simpanlah kotak kado itu hingga engkau dewasa. Negeri ini pasti membutuhkan ketiga kata sakti itu di jiwamu," jelas Ibu meyakinkan Ade.


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.

Sponsored By :